Cinta yang Terhalang oleh Takdir. Episode 17: Pilihan yang Tak Terelakkan
Malam itu, Sinta duduk di kamar dengan perasaan yang begitu berat. Hatinya terasa remuk, seolah dihimpit oleh beban yang tak terlihat. Ia tahu bahwa waktunya untuk memilih sudah semakin dekat, namun setiap kali ia mencoba memutuskan, hatinya kembali ragu. Di satu sisi, ada Rendra—pria yang selalu ada untuknya, yang mencintainya dengan tulus dan memberinya kehidupan yang stabil. Di sisi lain, ada Arman—cinta pertamanya, pria yang pernah berjanji untuk membangun masa depan bersamanya, meskipun akhirnya mereka terpisah oleh keadaan.
Sinta menatap langit-langit kamarnya, mengingat kembali setiap momen yang telah ia lalui bersama mereka berdua. Bagaimana Rendra selalu hadir dalam hidupnya, mendukungnya dalam setiap langkah yang ia ambil. Bagaimana Arman datang kembali, membawa perasaan yang sempat ia pikir telah hilang, namun ternyata masih begitu kuat.
Ia menutup matanya, mencoba mendengar suara hatinya sendiri.
"Apa yang benar-benar aku inginkan?"
Pertanyaan itu terus bergema dalam pikirannya.
Sementara itu, Rendra duduk di teras rumahnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Ia sudah menduga bahwa Sinta sedang mengalami pergolakan batin yang besar. Namun, meskipun ia mencintai Sinta sepenuh hati, ia tidak ingin memaksanya untuk tetap bersamanya jika hatinya ada di tempat lain. Ia ingin Sinta bahagia—bahkan jika itu berarti membiarkannya pergi.
Rendra menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan singkat untuk Sinta.
"Sinta, aku tahu ini bukan keputusan yang mudah untukmu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa apa pun pilihanmu, aku akan menghormatinya. Aku hanya ingin kamu bahagia, dengan atau tanpa aku."
Setelah mengirim pesan itu, Rendra menatap layar ponselnya lama. Ia tahu bahwa jawaban yang akan ia terima bisa mengubah segalanya.
Di sisi lain kota, Arman juga gelisah. Ia merasa seperti kembali ke titik awal, seperti saat ia harus meninggalkan Sinta bertahun-tahun lalu. Kali ini, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk berjuang. Tetapi ia juga tahu bahwa cinta sejati bukan tentang memaksa, melainkan tentang memberi kebebasan.
Tanpa berpikir panjang, Arman mengambil ponselnya dan menghubungi Sinta. Butuh beberapa detik sebelum panggilannya dijawab.
"Halo," suara Sinta terdengar pelan.
"Sinta," Arman menghela napas. "Aku tahu ini sulit untukmu. Aku tidak ingin menekanmu, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku masih di sini. Aku siap menunggumu jika itu yang kamu butuhkan. Aku hanya ingin kamu jujur pada dirimu sendiri."
Sinta terdiam lama. Matanya mulai berkaca-kaca. "Arman... aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana."
"Jangan pikirkan aku, jangan pikirkan Rendra," kata Arman dengan lembut. "Pikirkan dirimu sendiri. Apa yang membuatmu bahagia? Ke mana hati kecilmu membawamu?"
Sinta menutup matanya, membiarkan kata-kata Arman meresap dalam pikirannya. Untuk pertama kalinya, ia mencoba mendengar suara hatinya tanpa dipengaruhi oleh rasa bersalah atau ketakutan.
Keesokan harinya, Sinta berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih sederhana. Ia sudah memutuskan. Tidak ada lagi keraguan. Ia harus memilih—bukan karena tekanan, bukan karena rasa bersalah, tetapi karena ia ingin mengikuti kata hatinya.
Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku ingin bertemu denganmu. Ada sesuatu yang harus aku katakan."
Suara di ujung telepon terdengar ragu. "Di mana?"
"Di taman tempat kita pernah berbicara tentang masa depan."
"Baik. Aku akan menunggumu di sana."
Sinta menghela napas panjang. Ia tahu bahwa setelah ini, tidak akan ada jalan untuk kembali.
Komentar
Posting Komentar