Cinta yang Terhalang oleh Takdir. Episode 2: Janji di Bawah Bintang
Di tepi sungai itu, dua sosok duduk berdampingan, namun tak ada tawa yang biasanya menghiasi pertemuan mereka.
Sinta memeluk lututnya erat, berusaha menyembunyikan gemetar di tangannya. Sejak kecil, sungai ini adalah tempat rahasia mereka, tempat mereka berbagi impian, keluh kesah, dan cinta yang tak terucapkan. Tapi malam ini, tempat ini menjadi saksi dari sesuatu yang lebih berat—perpisahan.
Arman menatap langit dengan tatapan kosong. “Aku akan berangkat besok pagi,” ucapnya akhirnya, suaranya terdengar serak.
Sinta menutup mata, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang. “Jadi, ini malam terakhir kita?”
Arman menelan ludah, lalu menoleh ke arah Sinta. “Aku janji, ini bukan perpisahan selamanya. Aku akan kembali untukmu.”
Sinta menunduk, menggigit bibirnya agar tidak menangis. “Bagaimana kalau aku tak bisa menunggumu, Arman? Bagaimana kalau mereka memaksaku menikah?”
Arman mengepalkan tangannya, hatinya terasa diremas mendengar ketakutan Sinta. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku akan menulis surat setiap bulan, agar kamu tahu aku tetap di sini, di hatimu.”
Sinta mengangkat wajahnya, menatap Arman dengan mata yang kini berkaca-kaca. “Dan jika suratmu tidak sampai?”
Arman terdiam sesaat, lalu tersenyum lemah. “Maka aku akan tetap menulis, meskipun aku tidak tahu apakah kamu membacanya.”
Hening kembali menyelimuti mereka. Hanya suara air sungai yang mengalir perlahan, seperti ikut merasakan kesedihan mereka.
Sinta mendongak, menatap langit malam yang dipenuhi bintang. “Lihat, Arman. Malam ini bintang-bintang begitu terang.”
Arman mengikuti arah pandang Sinta, lalu mengangguk. “Ya, mungkin mereka ikut mendengarkan janji kita.”
Sinta menghela napas panjang, lalu mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, mari kita berjanji di bawah bintang-bintang ini. Jika suatu hari kita terpisah, kita akan saling mencari, seperti bintang yang selalu bersinar meski malam berganti.”
Arman menatap tangan Sinta, lalu menggenggamnya erat. Ia ingin mengukir momen ini dalam ingatannya selamanya. “Aku janji, Sinta. Aku akan kembali untukmu, apa pun yang terjadi.”
Sinta tersenyum pahit. “Aku juga berjanji. Aku akan menunggumu.”
Angin malam berhembus lebih kencang, seolah menjadi saksi bisu dari janji yang baru saja terucap. Arman ingin menahan waktu, ingin menunda pagi agar ia bisa bersama Sinta lebih lama. Namun, ia tahu itu tidak mungkin.
Malam itu, mereka duduk berdua dalam diam, menikmati kebersamaan yang entah kapan bisa mereka rasakan lagi. Tak ada kata yang perlu diucapkan, karena mereka tahu, hati mereka telah berbicara.
Esoknya, fajar menyingsing lebih cepat dari biasanya, atau setidaknya begitulah yang dirasakan Sinta. Ia berdiri di depan rumahnya, melihat Arman yang bersiap pergi dengan membawa sebuah tas tua.
Langkah kaki Arman terasa berat. Ia ingin menoleh ke belakang, ingin melihat wajah Sinta sekali lagi, tetapi ia tahu jika ia melakukannya, ia tidak akan sanggup pergi.
Sinta berdiri kaku, jemarinya gemetar menggenggam ujung selendangnya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia menolak untuk menangis.
Saat Arman akhirnya menaiki delman yang akan membawanya ke stasiun, Sinta menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Jangan menangis, Sinta… Aku akan kembali,” gumamnya lirih, meskipun ia tahu, mungkin kata-kata itu lebih ditujukan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Delman bergerak perlahan, menjauh dari desa, membawa Arman pergi dari kehidupannya… setidaknya untuk sementara.
Sinta tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung Arman yang semakin jauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan.
Dan saat itu, setetes air mata jatuh di pipinya.
Ia telah berjanji akan menunggu. Tapi, apakah takdir akan menepati janjinya juga?
terharu......
BalasHapus