Cinta yang Terhalang oleh Takdir. Episode 15: Keputusan yang Tak Terelakkan
Setelah pertemuan dengan Arman, Sinta merasa seolah dunia kembali mengujinya. Ia kembali ke kedai dengan perasaan bercampur aduk—bahagia karena sukses yang telah mereka raih dengan Rendra, namun juga dihantui oleh kenangan yang muncul begitu saja, saat tak diduga. Meski ia berusaha menenangkan dirinya, di dalam hati ada pertanyaan yang terus mengganggu. Apakah yang ia pilih adalah jalan yang benar?
Rendra, yang selalu mendukungnya, mulai merasakan ada yang berbeda dengan Sinta. Dia menyadari Sinta sering kali tampak termenung, jauh dalam pikirannya, meskipun senyum manisnya tetap terlihat di wajahnya. Terkadang, Rendra merasa cemas, tetapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia hanya bisa berharap Sinta akan membuka hatinya kepadanya suatu saat nanti.
"Sinta," Rendra memanggil, sambil duduk di meja dekat kasir, tempat Sinta sedang menghitung stok barang. "Kamu oke?"
Sinta terdiam beberapa detik, lalu menatap Rendra dengan tatapan lembut. "Aku hanya sedikit lelah, Rendra. Mungkin karena terlalu banyak yang harus aku pikirkan belakangan ini."
Rendra mengangguk, meskipun ia masih merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang tidak diungkapkan. "Aku tahu kamu kuat, Sinta. Tapi jika ada yang mengganggu pikiranmu, aku ingin kamu tahu, aku di sini untuk mendengarkanmu."
Sinta menghela napas panjang, merasakan ketulusan dalam suara Rendra. Ia ingin menceritakan perasaan yang mengganjal, tetapi ada rasa takut dalam dirinya. Takut jika membuka semua itu, ia akan mengecewakan Rendra. Takut jika ia melukai hatinya.
"Terima kasih, Rendra. Tapi aku rasa aku harus menenangkan pikiranku dulu," jawab Sinta pelan.
Rendra hanya mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya, meskipun perasaan khawatirnya semakin besar. Ia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih dalam yang disembunyikan Sinta. Ia tidak tahu apa itu, tetapi ia merasa bahwa perasaan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Arman, setelah pertemuan tak terduga itu, merasa hidupnya mulai terasa lebih berat. Meski ia mencoba untuk tetap sibuk dengan proyek sosial dan kegiatan lainnya, ada bagian dalam dirinya yang merasa hampa. Pertemuan dengan Sinta, meskipun singkat, memunculkan kembali banyak perasaan yang ia coba kubur dalam-dalam. Ia merasa seolah-olah berada di persimpangan jalan, di antara perasaan yang ia miliki untuk Sinta dan hidup baru yang sedang ia bangun.
Suatu malam, setelah selesai bekerja, Arman memutuskan untuk berjalan-jalan di kota. Ia berhenti di sebuah taman yang sering ia kunjungi saat masih bersama Sinta dulu. Di sana, ia duduk di bangku yang sama tempat mereka pernah berbincang tentang masa depan mereka. Arman memandang langit malam yang cerah, mencoba mencari jawaban dari banyak pertanyaan dalam benaknya.
Maya, yang kebetulan lewat, melihat Arman duduk sendiri di bangku taman. Ia mendekat dan duduk di sampingnya. "Arman, kamu terlihat sedang berpikir keras. Ada apa?"
Arman menoleh ke Maya dan tersenyum lemah. "Aku hanya... mencoba mencerna semuanya, Maya. Ada begitu banyak hal yang aku rasakan, tapi aku merasa bingung."
Maya menatapnya penuh perhatian. "Aku bisa merasakannya. Arman, kamu bukan orang yang mudah menyerah, dan aku tahu kamu tidak akan tinggal diam hanya karena perasaanmu. Jadi, apa yang sebenarnya kamu inginkan?"
Arman terdiam, berpikir sejenak. "Aku tidak tahu, Maya. Aku hanya merasa seperti aku berada di persimpangan jalan. Aku harus memilih, dan aku tidak tahu pilihan mana yang benar."
Maya meletakkan tangan di pundaknya. "Arman, kamu harus mengikuti hati nuranimu. Jangan biarkan perasaan takut atau bingung menghalangi keputusanmu. Apa yang kamu rasa benar untukmu?"
Arman menatap Maya, kemudian mengangguk pelan. "Kamu benar, Maya. Aku tidak bisa terus berlarut-larut dalam kebingunganku. Aku harus membuat keputusan."
Kembali ke kedai, Sinta semakin merasakan perasaan yang semakin mengganggunya. Ia sudah mencoba sekuat tenaga untuk fokus pada kedai dan membangun masa depan bersama Rendra, tetapi perasaan rindu dan penyesalan terus datang begitu kuat. Ia merasa terperangkap dalam keputusan yang ia buat. Memilih untuk terus maju dengan Rendra, meskipun ada kenangan yang begitu kuat bersama Arman, ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Sinta merasa hatinya terkoyak. Rendra yang selalu ada untuknya, penuh cinta dan dukungan, tetapi hatinya masih tersisa ruang yang tak bisa diisi oleh siapapun selain Arman. Ia merasa tak adil untuk Rendra, dan itu membuatnya semakin terpuruk.
"Sinta, apakah kamu sudah memutuskan?" Rendra tiba-tiba bertanya suatu malam, saat mereka berdua duduk bersama setelah kedai tutup. "Aku merasa seperti kita sudah begitu dekat, tetapi ada jarak antara kita. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku selalu ada di sini untukmu."
Sinta menatap Rendra dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku... aku tidak tahu lagi apa yang harus aku pilih, Rendra. Kadang aku merasa seperti aku sudah membuat keputusan yang benar, tapi hatiku tidak pernah benar-benar tenang."
Rendra menggenggam tangan Sinta dengan lembut. "Kamu tidak perlu terburu-buru, Sinta. Aku tahu kita sedang melalui banyak hal, tapi aku percaya pada kita. Jika kamu butuh waktu untuk merenung, aku akan menunggu."
Sinta merasa haru mendengar kata-kata Rendra. Ia tahu bahwa Rendra sangat mencintainya, tetapi hatinya masih diliputi kebingungannya sendiri. Ia merasa tidak adil jika terus berada di sisi Rendra, sementara hatinya masih terikat pada masa lalu.
Komentar
Posting Komentar